Saturday, 12 January 2013

Gaya-gaya Arsitektur


GAYA (style) arsitektur diwakili oleh dua hal.Pertama, yang paling kasat mata adalah arsitekturdalam pengertian formalistik (wujud), bentukan masa, teknik membangun, fungsi-fungsi yang diwadahi,dan kesan keseluruhan karya tersebut.YANG kedua, lebih sulit dikenali, adalah dalam pengertian pra-anggapan, interpretasi dan wacana yang melatari kehadiran wujud arsitektur. Pada tataran ini, ujud “hanya” merupakan hasil dari proses desain. Yang harus diapresiasi adalah bobot pemikiran, curahan emosi, maupun penyaluran kehendak dari si arsitek. Beberapa karya yang dirancang dalam proses dan alur pemikiran yang kurang lebih serupa bisa menjadi pemicu kehadiran “gaya” tertentu.

Secara taksonomis-simplistik, gaya arsitektur dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, gaya arsitektur yang bersifat kultural. Kedua, gaya yang lebih berorientasi pada referensi personal. Dan ketiga, gaya yang tampil sebagai gaya “universal”. Kehadiran ketiga gaya arsitektur tersebut sangat nyata di seluruh belahan dunia dan sangat terkait dengan tarik-menarik kekuatan global versus lokal, homogenitas versus heterogenitas kultur, keterbukaan versus ketertutupan masyarakat terhadap ide baru. Juga tidak kalah pentingnya, tergantung situasi finansial bangsa dan negara.
Taksonomi tersebut sangat simplistik sifatnya, untuk itu jangan dipandang secara kaku. Di dalam gaya arsitektur yang lebih dekat pada referensi kultur tertentu, tetap saja akan ditemui pendekatan personal arsitek di dalamnya yang cukup untuk menghadirkan perbedaan dengan apa yang umum dilakukan. Tetap saja ada pendekatan arsitektur, pencarian yang bisa dikaitkan dengan samudera arsitektur di jagat ini. Arketip Carl Gustav Jung juga berlaku dalam arsitektur. Pada zaman teknologi informasi seperti ini, bahkan tidak mungkin bagi kita untuk secara ketat menerapkan “kemurnian” gaya.

Situasi arsitektur mutakhir Indonesia memperlihatkan beragam gaya muncul di berbagai bagian negeri ini. Secara umum, kita bisa menyaksikan contoh pembagian taksonomis yang diterapkan secara eklektik, terkadang tanpa kesadaran atas “kepantasan” dengan alam negeri yang berbeda dengan alam asal gaya arsitektur tersebut.

Gaya arsitektur kultural
Gaya universal
Gaya ini secara umum sering disebut gaya arsitektur tradisional dan perkembangannya adalah gaya arsitektur vernakular. Arsitektur tradisional lekat dengan tradisi yang masih hidup, tatanan, wawasan, dan tata laku yang berlaku sehari-hari secara umum. Bali, terutama pada daerah pedesaan dengan basis pertanian, menjadi saksi arsitektur jenis ini. Di kota-kota besar Bali, pada daerah yang berbasis pariwisata, lebih banyak kita saksikan arsitektur bergaya vernakular, seperti pada bangunan dengan tipologi baru yang tidak dikenal secara umum pada tataran tradisional, yaitu pada rancangan hotel, toko, dan sebagainya.

Arsitektur vernakular merupakan transformasi dari situasi kultur homogen ke situasi yang lebih heterogen dan berusaha sebisa mungkin menghadirkan citra, bayang-bayang realitas arsitektur tradisional. Rasa hormat pada tradisi “agung” dan “tinggi” biasanya cukup nyata pada arsitektur vernakular. Citra yang disajikan lebih banyak bersandar pada referensi arsitektur “rakyat” daripada terhadap bangunan keagamaan, bangunan milik bangsawan-penguasa dan sejenisnya. Referensi pada arsitektur “rakyat” yang secara fungsional sudah beradaptasi, jitu, teruji terhadap alam tempatnya berada, biasanya lebih memiliki kepekaan baik secara teknis, sosial, dan kultural.

Pada perkembangan mutakhir, di mana heterogenitas kultur menjadi dominan, arsitektur tradisional mengalami lompatan melampaui proses vernakularisasi, dan muncul dalam wujud eklektik (campur aduk) wujud tradisional, tanpa perduli pada tatanan, hirarki makna, pengertian yang terkandung pada wujud “asli”-nya. Kita bisa saksikan, masih di Bali, berbagai tradisi arsitektur, baik tradisi “agung” dan “tinggi”, bahkan juga dari berbagai belahan dunia, dari puncak-puncak kebudayaan sejagat disajikan dalam kehadiran baru di dalam kerangka kultur Bali kontemporer. Lihat saja daerah Kuta.

Gaya arsitektur personal
Indonesia sebenarnya mengenal banyak sekali arsitek atau kelompok arsitek yang memiliki ciri khas desain baik yang orisinal maupun pengembangan dari wujud, pemikiran dari pribadi atau kultur lain dari luar Indonesia. Yang sangat kurang adalah pencatatan atas prestasi dan karya mereka, suatu hal yang mengakibatkan buruknya apresiasi terhadap arsitek kita.

Kita kenal karya yang sangat banyak mempengaruhi alam arsitektur mutakhir kita. Beberapa nama yang pernah, masih, dan sedang berpengaruh, seperti almarhum Friederich Silaban dengan karya yang sangat memperhatikan kondisi klimatologis negeri tropis, sangat teknis dan kokoh. Kantor Pusat Bank Indonesia Jakarta, kompleks Masjid Istiqlal, dan gedung di Taman Makam Pahlawan Kalibata adalah peninggalan karya yang masih bisa diapresiasi dengan baik sampai saat ini. 

Almarhum Sujudi dengan bangunan monumental seperti Gedung MPR/ DPR, dan gedung kantor berpenampilan tipis-ringan-tajam, seperti Gedung ASEAN, kompleks Departemen Pertanian Pasar Minggu, Jakarta. Sie Fen, perempuan arsitek yang mungkin sudah merancang ratusan rumah mewah berlisplang ganda, dengan kaca lengkung ultra besar, dengan tangga agung melingkar di baliknya, dengan ide rumah “kapsul”, yang sempat menjadi referensi tipologis bagi rumah kaum berada tahun 1970-1980-an. Masih banyak lagi yang lain, juga di kalangan yang lebih muda, yang banyak menguasai jagad pembicaraan arsitektur Indonesia lima enam tahun belakangan ini.

Kesulitan terbesar bagi para arsitek dengan personalitas kuat adalah kesempatan memiliki portofolio yang cukup sebagai representasi gaya yang ditawarkannya. Masyarakat umumnya sering datang kepada arsitek dengan preferensi terhadap gaya yang sudah lebih mapan, terutama dari kultur atau arsitek negeri lain , terkadang tanpa pengertian yang cukup atas “kepantasan” gaya tersebut di alam tropis yang terang benderang, panas hujan tiada henti ini.

Usaha untuk menghadirkan satu gaya arsitektur untuk seluruh umat manusia, di berbagai tempat berbeda, secara sadar, propagandis, didominasi para arsitek Modernis akhir abad ke-19 sampai sekarang. Salah satu penggerak utamanya adalah revolusi industri, terutama industri konstruksi, dan meluasnya pemanfaatan energi listrik yang memacu pemanfaatan teknologi secara aktif di dalam bangunan. Situasi klimat yang berbeda, direspons dengan penggunaan teknologi secara ekstensif.

Salah satu gaya yang menyebar sangat luas dan hampir merata di seluruh dunia adalah gaya “international style” yang dinyatakan dengan tampilan bangunan berujud geometris murni, terutama kotak kaca-aluminium-dengan konstruksi baja atau beton yang dibangun berdasarkan ukuran standar modul industri konstruksi. Gaya arsitektur ini dilatari orientasi cost-benefit dalam rangka memacu percepatan penambahan jumlah meter persegi bangunan yang merupakan simbol “kemajuan” bagi zaman tersebut.

Arsitektur bergaya “internasional” muncul sekaligus sebagai reaksi terhadap gaya agung dan tinggi yang lekat dengan citra borjuasi. Sangat jelas penolakan terhadap citra historis, terhadap penggunaan elemen yang membutuhkan rancangan dan keahlian tangan khusus, untuk klien khusus yang berorientasi mahal secara ekonomis dan tidak mungkin dijangkau masyarakat kebanyakan. Arsitektur direduksi menjadi susunan elemen hasil industri yang standar, massal. Pada ekstremnya muncul diktum seperti ornament is crime (Adolf Loos), less is more (Mies Van de Rohe). Dan, simplifikasi form follows function (Louis Sullivan) ke dalam fungsionalisme, berhasil diujudkan dan menjadi arus utama arsitektur, bahkan sampai sekarang. Munculnya gaya arsitektur minimalis belakangan ini adalah perkembangan dari universalitas gaya tersebut.

Gaya internasional pada tahun 1980-an memperoleh reaksi dan berkembang wacana arsitektur postmodern yang justru mengajukan tawaran menengok kembali sejarah, menolak singularitas universal, bahkan menjajakan ide pluralitas arsitektur yang eklektis. Juga berkembang arsitektur dekonstruksi yang lebih berdasarkan pada wacana intelektual di luar arsitektur yang cenderung sulit dimengerti dan diapresiasi masyarakat umum. Pada tahap ini, arsitektur modern yang berusaha menghadirkan universalitas tampilan, lebih diwakili universalitas argumen, sehingga isu keseharian relatif tidak tersentuh.

Repotnya, hal itu justru mengembalikan arsitektur pada posisi elitis. The Grand and High Architecture imbasnya sudah terasa di Indonesia, namun terhalang krisis moneter yang cukup membantu kembalinya perhatian pada hal yang lebih prinsipil, berhubungan dengan investasi pembangunan, kemudahan perawatan, dan efisiensi fungsional, daripada sekadar mengada-ada dengan gaya arsitektur yang begitu beragam.


0 komentar:

Post a Comment